Akibat ‘Kebanjiran’ Orang Gila Pemprov DKI Jakarta Siapkan RS Khusus

oleh -347 views
Jakarta, INDIKASINews — Ibukota negara DKI Jakarta, kian `kebanjiran` pengidap gangguan jiwa.‎ Hal itu didasari atas data Dinkes DKI Jakarta, yang menyatakan bahwa tiap tahun orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) bertambah hingga 5 persen.
Pada 2016, jumlah penyandang gangguan jiwa mencapai 2.283 orang, meningkat dibanding 2015, berjumlah 1.515 orang. Jumlahnya yang terjaring oleh Dinas Sosial DKI Jakarta sepanjang tahun lalu menempati peringkat kedua di antara para penyandang masalah kesejahteraan sosial.
Psikolog Forensik dari Universitas Indonesia, Reza Indragiri Amriel, mengatakan, ‎gangguan kejiwaan menjadi salah satu konsekuensi bagi setiap orang yang hidup di kota besar, terutama di Jakarta. Menurutnya, atmosfer hidup di kota besar kerap membawa dampak tersendiri bagi psikologi seseorang.
“Kota besar seperti di Jakarta, terkadang mengadirkan tekanan yang berpengaruh pada psikologi seseorang. Terlebih, kondisi pribadi seseorang yang kerap mendapatkan masalah tentu berpengaruh pada kejiwaan,” katanya di Jakarta, Senin (11/12/17).
Faktor lingkungan juga berpengaruh pada kondisi kejiwaan seseorang. Ditengah persaingan, maupun tekanan batin yang hadir ditengah masyarakat, secara tak langsung‎ dapat memberikan pengaruh pada kejiwaan seseorang.
“Tak hanya timbul melalui persoalan seperti stress, depresi, dan beberapa hal lainnya, kondisi lingkungan kerap berpengaruh pada kejiwaan seseorang. Adanya persaingan yang negatif juga menjadi faktor yang mendatangakan tekanan bagi seseorang,” ujar dia.
Ia menilai, kondisi ini mesti menjadi perhatian serius semua pihak. Sebab berdasarkan pengamatannya, kebiasaan yang ada selama ini, publik justru kerap mencemooh mereka, ketimbang memberikan perhatian untuk pembinaan. “Perlu perhatian dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi permasalah orang gangguan jiwa,” ujar dia.
Ribuan Orang
Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Masrokhan, mengatakan, total orang psikotik yang mencapai ribuan itu baru yang terdata di panti. Namun, kata dia, masih ada lagi mereka yang berada di lingkungan keluarga atau pun di tempat lainnya.
“Untuk mengatasi tingginya prevalensi psikotik itu, kami mengembangkan Laboratory Scientist,” kata Masrokhan di Jakarta, Senin (11/12/17).
Laboratorium itu berfungsi sebagai wahana untuk mengkolaborasi metode penanganan para penyandang disabilitas secara komprehensif. Berbagai disiplin ilmu atau ahli juga dilibatkan dalam memberikan kontribusi pemikiran dan konsep.
Di samping itu, pihaknya tidak hanya melakukan pelayanan di panti, tetapi juga pelayanan non panti. Pelayanan non panti itu akan diberikan kepada masyarakat di lima wilayah kota melalui day care secara gratis.
Dari catatan Dinas Sosial, sejauh ini ada sekitar 2.962 orang yang kini sedang menjalani pembinaan, lantaran mengalami gangguan kejiwaan. Ironisnya, banyaknya pengidap gangguan jiwa itu tak dibarengi dengan jumlah panti pembinaan.”Kapasitas panti hanya 1.700 orang,” ujar dia.
RS Khusus
Menyikapi kondisi itu, Dinkes DKI Jakarta akan membangun sebuah bangunan yang mampu memuat 200 unit tempat tidur. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto, mengatakan, fasilitas tambahan itu untuk menampung ODMK yang mengalami peningkatan setiap tahunnya.
“Dipikir di Jakarta enggak banyak orang penyakit jiwa, persentasenya bertambah setiap tahun,” ujar Koesmedi, Senin (11/12/17).
Untuk diketahui, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berencana menambah fasilitas ODMK di RS Duren Sawit, Jakarta Timur. Besar anggaran untuk rumah sakit itu mencapai Rp229 miliar.
“Untuk rumah sakit kami ingin RS Duren Sawit menjadi rumah sakit khusus (pasien) gangguan jiwa dan sekarang baru mulai dianggarkan,” kata Sandiaga, Minggu (10/12/17).
Adapun regulasi tentang kesehatan jiwa telah tersedia melalui Undang Undang Nomor 18 Tahun 2014.‎ Hal itu, diungkapkan salah satu Anggota Komisi IX DPR RI, Okky Asokawati.
“Setidaknya ketentuan agar setiap RSUD harus memiliki minimal 10 bed (tempat tidur) bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tidak terlaksana dengan baik,” katanya di Jakarta, Senin (11/12/17).
Di DKI Jakarta, kata Okky, fenomena depresi menempati urutan ketiga penyakit yang banyak diderita masyarakat Jakarta. Depresi termasuk yang terbanyak setelah penyakit jantung dan diabetes.
“Kondisi ini memberi pesan penting agar pemimpin DKI Jakarta Pak Anies dan Bang Sandi tidak hanya memikirkan pembangunan raga kota Jakarta namun juga harus memperhatikan membangun jiwa warga Jakarta,” ujar Okky. (ht-in/red)
GMD Group:
Indikasinews.com
Koran Penyelidik Korupsi
Tabloid Bhayangkara Pers

Loading...