Cegah Radikalisme dan Penyebaran Berita Hoaxs dengan Literasi

oleh -330 views
Jakarta, INDIKASINews — Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Dr. Waryono, M.Ag., menegaskan gerakan menulis populer di kalangan akademisi dan peneliti, dipastikan mampu menurunkan penyebaran sikap radikalis di kalangan peneliti.
Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan pada Pelatihan Menulis Populer dan Opini, yang berlangsung di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jumat (13/10/17).
“Pelatihan menulis populer dan opini mampu menurunkan penyebaran sikap radikalis di kalangan masyarakat Indonesias,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dengan menulis populer yang didasarkan pada data-data dan karya tulis ilmiah, maka pemberitaan yang beredar di masyarakat diwarnai oleh informasi yang akurat. Sebab setiap tulisan ilmiah yang dilakukan peneliti telah melewati saringan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dampaknya, jelas Dr Waryono, masyarakat tidak serta merta menggunakan pendekatan keagamaan untuk membenarkan tindakannya. Dengan demikian, tindakan radikalisme dapat diminimalisasi.
“Ada pencerahan yang didapatkan masyarakat dari penulisan populer,” papar dia.
Antisipasi Hoaks
Selain itu, penyebaran tulisan populer berdasarkan karya ilmiah juga dapat meningkatkan kecerdasan masyarakat yang membacanya. Sehingga bisa lebih selektif dalam memilah informasi yang perlu dibaca dan yang tidak.
“Menulis populer juga dapat menurunkan penyebaran hoax atau berita palsu yang beredar di masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat tidak terpengaruh untuk bertindak yang tidak tepat,” papar dia.
Menurutnya, penulisan populer sangat penting bagi kalangan mahasiswa sebagai bagian dari kalangan akademisi dan peneliti. Apalagi mahasiswa merupakan tulang punggung bangsa yang harus berjuang bagi penyebaran berita-berita produktif dan edukatif.
“Kebiasaan untuk menulis populer akan mendorong mahaiswa untuk menyebarkan informasi berbabasis data yang akurat. Hal itu tentunya akan mencegah penyebaran berita hoax dan sifat radikal di kalangan kampus. Dan kami menyambut baik kegiatan ini sebagai upaya perguruan tinggi mengantisipasi penyebaran gerakan radikalisme dan hoax,” tandas dia.
Radikalisme dan bisnis hoaks di media sosial
Sejumlah kelompok radikal sangat massif menyebar paham mereka melalui media sosial. Mereka membuat group di media sosial, tulisan, meme dan video untuk menyebarkan pahamnya.
Sementara itu, hoaks sering sekali diartikan sebagai berita bohong yang sengaja disebar untuk dipercayai oleh orang banyak. Penyebaran hoaks plus peran ampuh media sosial ibarat api yang disiram bensin.
Saat ini, terutama di media sosial, hoaks kerap disebar dengan memantik emosi netizen. Warga net diarahkan untuk mengetuk tautan atau berkomentar atau menyukai domain atau akun demi menggenjot traffic. Traffic yang tinggi akan memantik pengiklan, dan dari sinilah uang masuk.
Latar belakang netizen mempercayai hoaks, antara lain, karena keterbatasan informasi dan tumpulnya nalar akibat rendahnya kebiasaan membaca teks. (rn-red)

Loading...