Ijazah dan Izin Praktek ‘Ditahan’ Sumia Aesthetic Clinic , GMB Lapor Polisi

oleh -66 views
Foto: Sumia Aesthetic Clinic

INDIKASINews, Jakarta — GMB (inisial), seorang dokter yang ditahan ijazah prakteknya oleh sebuah klinik kecantikan.

GMD bercerita kepada awak media bahwa dirinya dirugikan lantaran ijazah dan izin prakteknya ditahan karena mengundurkan diri.

Padahal, menurut penuturan GMB, dirinya masih dalam tahap training dan belum memasuki masa kerja yang dijanjikan di sebuah cabang milik klinik tersebut.

Lebih parahnya, cabang klinik tersebut menggunakan izin praktek miliknya sebagai dokter penanggung jawab.

Hal ini terjadi ketika pada Juni 2019 dirinya melamar kerja sebagai dokter kecantikan di Klinik tersebut untuk penempatan cabang Bintaro.

Kepada awak GMB menuturkan bahwa dirinya diterima di klinik tersebut setelah lolos interview. Alhasil, GMB pun menandatangani kontrak kerja dengan pihak klinik yang diwakilkan HS selaku HRD.

“Setelah melakukan interview, saya menandatangai kontrak kerja dengan pihak Sumia,” ujar GMB.

Dalam kontrak kerja tersebut, lanjut GMB menuturkan, dirinya akan dijadikan dokter penanggung jawab di cabang Bintaro dengan ketentuan 5 hari kerja dalam 1 minggu.

Ia juga diiming-imingi akan dibayar Rp1 juta per bulan oleh klinik yang telah memakai surat izin praktek dirinya sebagai dokter penanggung jawab, namun sampai saat ini belum pernah dibayarkan.

Namun apa yang dialami GMB tidak sesuai harapannya, pasalnya Klinik cabang Bintaro saat itu belum keluar izinnya, hingga dirinya terpaksa harus menuruti permintaan manajemen klinik untuk mengisi kekosongan dokter di cabang Margonda, Depok.

Karena ketidakjelasan kapan izin cabang Bintaro keluar, dirinya terpaksa mengundurkan diri.

“Pada bulan November 2019 saya mengundurkan diri,” lanjut GMB menjelaskan.

Namun, dirinya kemudian mendapatkan surat somasi dari Klinik tersebut karena dianggap telah melanggar kontrak.

menurutnya, pihak klinik mensomasi dirinya dengan meminta ganti rugi sebesar Rp 250 juta dengan alasan sebagai pengganti training dan memutuskan kontrak kerja.

“Mereka (klinik) mengirimkan surat somasi kepada saya dan meminta saya untuk membayar Rp250 juta sebagai ganti rugi uang training dan juga penalti karena saya keluar sebelum kontrak saya habis,” lanjut GMB.

Padahal, dirinya mengundurkan diri pada masa percobaan dan menurutnya tidak bermasalah dengan kontrak kerja.

“Saya pun mengundurkan diri pada masa percobaan saya selama 3 bulan awal. Itu masih masa percobaan saya, jadi seharusnya saya masih tidak apa-apa untuk mengundurkan diri,” tandasnya.

Pihak klinik pun menurut GMB belum memberikan surat izin prakter miliknya yang ditahan.

Atas perlakuan yang dialaminya, GMB akhirnya membuat laporan kepolisian di Polres Metro Jakarta Selatan dengan dugaan penggelapan.

Penulis: Red

Loading...