Intelijen Asing Mengadu Domba TNI-Polri Terkait Polemik 5000 Senjata?

oleh -366 views
Jakarta, INDIKASINews — Polemik pengadaan 5000 senjata disebut salah satu upaya operasi intelijen asing yang sangat berbahaya untuk mengadu domba
TNI, Polri, dan BIN. Tujuannya untuk menciptakan kegaduhan di Indonesia. Sejumlah kalangan mengecam tindakan ini, dan meminta Presiden Joko Widodo tidak berdiam diri mencegah upaya adu domba tersebut.
“Saya setuju dengan pendapat seorang pengamat yang menyebut ada upaya intelijen asing dalam polemik pembelian senjata itu upaya adu domba TNI, Polri, dan BIN. Dalam banyak hal, intelijen asing kerap membuat gaduh dengan membuat isu-isu yang meresahkan masyarakat,” kata pengamat dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah.
Terkait hal ini dia meminta agar Presiden Jokowi tidak membiarkan pihak mana pun mengadu domba antara TNI dengan Polri. Terlebih, pasca adanya isu‎ pengadaan ribuan senjata illegal.
“Presiden tidak boleh membiarkan ada pihak-pihak manapun yang ingin adu domba TNI atau Polri,” kata Amir di Jakarta, Senin (25/9/17).
Amir mengatakan, TNI akan terus membela Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai mandataris rakyat. “TNI tentu siap membela dan menjaga keamanan negara,” katanya.
Bahkan dia mengatakan, Presiden adalah panglima tertinggi yang harus dekat dengan TNI dan Polri. “Sebagai panglima tertinggi, Presiden tentunya harus dekat dengan TNI atau Polri,” ujarnya.
Akun Palsu
Sebelumnya, Pengamat intelijen, Ridlwan Habib, sempat menilai ada pihak ketiga yang mencoba melakukan adu domba antara Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN).
“Dari penelusuran dengan metode open source intelligence atau OSINT, operasi adu domba ini menggunakan medsos,” kata Ridlwan di Jakarta, Senin (25/9/17).
Situasi politik nasional mulai menghangat terkait polemik pengadaan senjata. Namun Menko Polhukam Wiranto sudah menegaskan hal itu hanya terkait komunikasi yang belum tuntas. Sementara, di media sosial persoalan itu terus menjadi perbincangan.
Dia menjelaskan, pada Sabtu (23/9) pukul 22.00 WIB muncul tagar di media sosial #PanglimaTantangBIN. Tagar itu sempat menjadi trending topik di Twitter. “Dari penelusuran saya, itu menggunakan auto bot, mesin, bukan akun asli,” kata alumni S2 Kajian Intelijen UI tersebut.
Adapun Tagar #PanglimaTantangBIN itu menggunakan link URL sebuah berita di website www.perangbintang.com. “Setelah saya cek, website itu di-hosting dari luar negeri, ” kata Ridlwan seperti dilansir Antara.
Website perang bintang.com beralamat IP di 198.185.159.145 yang berada di Naples, Florida, Amerika Serikat. “Ada intensi dari pembuat situs itu untuk menyamarkan penjejakan,” kata Ridlwan.
Pada Minggu (25/9) isu makin memanas karena beredar berita melalui WhatsApp group yang mengutip situs perang bintang.com.
“Padahal di berita itu ada wawancara fiktif seolah-olah Kepala BIN diwawancarai padahal tidak pernah dan tidak jelas lokasi wawancaranya. Tujuannya jelas fitnah dan menyesatkan,” kata Ridlwan.
Selain BIN, lanjut dia, akun-akun anonim juga memanaskan situasi dengan seolah-olah menuduh Polri mempunyai senjata ilegal. Bahkan dengan gambar-gambar hoaks.
Dia mencontohkan salah satu unggahan di media sosial yang menunjukkan tumpukan gambar senjata AK 47 yang disebut-sebut milik Polri. Namun setelah ditelusuri di internet itu gambar tumpukan senjata dalam konflik Yaman tahun 2016. “Jadi memang tujuannya adu domba dengan modal gambar hoaks,” katanya.
Dia menilai isu ini adalah upaya pecah belah oleh kepentingan asing agar Indonesia gaduh. Tujuannya agar masyarakat saling curiga termasuk personel di dalam kepolisian, BIN, dan TNI.
“Operasi intelijen asing yang sangat berbahaya karena mengadu domba para Bhayangkari negara, padahal hubungan Panglima, Kepala BIN, dan Kapolri harmonis dan baik baik saja,” katanya.
Ridlwan meyakini pihak asing ingin menciptakan kegaduhan agar pembangunan di Indonesia terganggu. “Masyarakat dibuat tidak tenang oleh isu-isu, sehingga resah dan tidak percaya pada pemerintah. Ini sangat berbahaya, ” katanya.
Dia menilai respon Menko Polhukam dalam menenangkan suasana sudah tepat dan terukur. “Kalau setelah ini terus memanas, pasti ada kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia akur, rukun dan damai,” kata Ridlwan.
Koordinator Indonesia Intelligence Institute itu mengimbau masyarakat umum agar bijak sebelum menyebar kabar di media sosial. “Bangsa ini kuat kalau bersatu, kita akan hancur jika dipecah belah dan diadu domba. Indonesia harus bersatu,” katanya.
Senjata Impor
Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, pengusutan isu impor senjata ilegal harus dilakukan dengan kepala dingin agar terlepas dari intrik-intrik politik. Sebelum ada keterangan yang jelas dari Panglima TNI soal institusi mana yang pernah berencana mengimpor senjata, Sufmi menyarankan untuk tidak berasumsi.
“Di satu sisi tidak boleh ada yang paranoid bahwa isu tersebut digoreng untuk memperburuk citra pemerintah tapi di sisi lain harus diwaspadai juga adanya pihak-pihak yang mengadu domba antar instansi resmi negara,” kata Sufmi Dasco, Senin (24/9).
Isu ini mengemuka setelah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam acara silaturahim dengan purnawirawan TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (22/9) menyampaikan ada institusi yang berencana mendatangkan 5.000 pucuk senjata secara ilegal dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Indonesia. (smr/ht-red)

Loading...