Penampungan Solar ‘Ilegal’ di Kawidaran Kab Tangerang Merajalela

oleh
113 views
Penampungan Solar diduga Ilega di Kawidaran Kab Tangerang Merajalela

INDIKASINews, Tangerang — Memang kejahatan dilakukan bukan karena ada niat pelakunya serta kesempatan. Hal itu terjadi di satu perkampungan di sudut Kota Tangerang, Provinsi Banten, khususnya di area Kawidaran Kabupaten Tangerang yang tampak aman-aman saja namun terdapat tindak pidana bisnis ilegal oleh para oknum pengusaha hitam.

Tindakan kejahatan tersebut diduga merupakan tindak pidana bisnis ilegal yang nyaris tidak pernah tersentuh hukum. Mulai dari tindak pidana penyelundupan hingga penampungan bahan bakar minyak sejenis solar dari mobil-mobil tengki besar untuk di jual dengan harga yang tinggi kepada pihak pelaku industri-industri.

Tidak mencurigakan memang, karena pada perinsipnya, untuk mencapai tempat itu, hanya ada satu jalan. Sebuah gang panjang yang ujungnya buntu, dan terdapat bangunan gudang tertutup rapat, yang akan mengecohkan para pengguna jalan yang tidak biasa melintas dan tidak mengenal orang-orang yang bekerja di sebuah bangunan gudang tua itu.

Aktivitas yang mencurigakan pun jarang terjadi dilihat di lokasi ini. Mungkin hal itu disebabkan karena pendistribusian BBM dilakukan melalui jalur tertutup dan sulit untuk diketahui. dari hasil pantauan lensa media beberapa waktu lalu menemukan mobil tengki bermuatan minyak solar dalam keadaan ‘ngencing’ yang lokasinya berada di jalan raya Serang, lebih tepatnya di Kawidaran.

Nampak mobil tengki sedang melakukan pemindahan solar ke mobil kijang kapsul, di gudang tua yang sudah tidak terpakai itu. Namun beberapa peralatan terdapat di tempat itu, mulai dari selang hingga mesin TS penghisap serta tong-tong berukuran besar yang sepertinya sangat mencurigakan.

Dari beberapa sumber, yakni warga sekitar, mengakui bahwa aktivitas bongkar muat BBM ditempat itu sudah sejak lama dilakukan. Selain itu, masyarakat sekitar juga mengetahui bahwa tempat itu adalah salah satu penampung solar ilegal.

Namun sejauh ini menurut warga, penampung yang satu ini tidak pernah menjual solar terhadap warga. Lalu kemana minyak solar milik penampung berinitial ONG ini di salurkan?. Mengapa pula tindakan ONG ini tidak pernah tersentuh oleh aparat penegak hukum, sementara minyak tersebut notabennya adalah minyak bersubsidi.

Pemerintah sendiri dalam hal ini dapat dinilai lalai dalam pengawasan. Padahal dalam UU RI No 22 Tahun 2001 Tentang Migas Bab VIII pasal 38 jelas-jelas menyebutkan, bahwa pembinaan dan pengawasan kegiatan usaha minyak dan gas dilakukan oleh pemerintah. Lalu apakah aktifitas pengencingan solar ‘ilegal’ dibenarkan oleh aparat terkait.

Selain itu, ONG juga patut diduga telah mengangkangi UU RI No 22 Tahun 2001 Tentang Migas pasal 55 yakni, setiap orang yang menyalahgunakan pengangkutan atau niaga bahan bakar minyak yang disubsidi pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling tinggi Rp.6 Milyar.

Penulis: WI-IN
Editor: Red