Warga: Kartu Jakarta Sehat (KJS) Harus Mudah Tanpa Berbelit-belit

oleh
133 views

Jakarta, INDIKASINews — Nurhaini berharap, sebagai layanan yang banyak digunakan warga Jakarta, semestinya KJS harus dibuat lebih mudah. Paling tidak, loket-loket di rumah sakit yang memang disediakan untuk melayani pasien KJS ditambah. “Petugasnya harus ditambah supaya pasien cepat ditangani. Kalau begini, kasihan pasien harus seharian di rumah sakit,” katanya.

Hal yang dialami warga Jatinegara bernama Yati (46) lebih parah. Untuk mendapatkan layanan operasi pengangkatan benjolan yang dideritanya, ia harus antre dan menunggu sekitar empat bulan. Ia mengatakan, sejak bertemu dokter yang menangani pertama pada November 2013, ia dipastikan harus menjalani operasi untuk sembuh.

Karena merasa khawatir akan penyakitnya, Yati menyetujui wacana operasi tersebut. Namun, ia mengaku pihak rumah sakit mengatakan kepadanya, operasi baru dapat dilakukan Maret 2014. “Katanya, pesertanya banyak. Jadi, saya harus menunggu sampai waktu tersebut,” ujar perempuan yang mengaku bekerja sebagai buruh cuci ini.

Permasalahan yang harus dihadapi Yati tidak sampai di situ. Sambil menunggu waktu operasi, ia harus menjalani serangkaian pemeriksaan. Salah satunya adalah pemeriksaan jantung yang sedang dijalani saat ini. Menurutnya, setelah diperiksa dokter, ia diberikan resep untuk sebulan. Sayangnya, pihak apotek hanya mengizinkan obat yang ditebusnya untuk seminggu.

“Jadi, setiap minggu saya harus ke sini hanya untuk mengambil obat. Ini kan menyulitkan saya sebagai buruh cuci yang penghasilannya harian,” keluh Yati.

Ia mengungkapkan, hanya untuk mendapatkan obat di apotek yang sebelumnya sudah dibuatkan resep dokter, ia harus melewati banyak tahapan.

“Pertama, saya daftar, ambil nomor, lalu buat ACC, kemudian ke asisten dokter, terus ke loket pembayaran, baru ambil obat. Untuk semua tahapan itu, saya harus antre. Saya dari pagi di sini dan sampai siang belum dapat obat,” ucapnya.

Sebagai buruh cuci, harus seminggu sekali ke rumah sakit dan mengantre setengah hari jelas sangat memberatkan. Karena harus berada di rumah sakit, ia kehilangan penghasilannya sehari lantaran tidak bekerja.

Karena itu, ia berharap hal ini menjadi perhatian khusus Pemprov DKI Jakarta. “Saya harap ada perubahan. Kenapa dari dulu tidak bernah berubah? Pelayanan buat orang kecil selalu terkesan berbelit-belit,” keluh Yati. (kopi)